TOYOTA Alphard, mobil multiguna atau multipurpose vehicle (MPV) premium, makin banyak peminatnya. Ketua Asosiasi Importir Kendaraan Bermotor Indonesia (AIKI) Tommy R. Dwiananda mencontohkan tingkat penjualan seri terbaru Alphard Velfire Z yang sejauh ini sangat bagus. “Penjualan pada Agustus ini saja bisa mencapai 300 unit,” kata Tommy.
Kondisi ini membuat Alphard kokoh memimpin penjualan MPV premium di Indonesia. Adapun di posisi kedua, Nissan Elgrand membuntuti dengan penjualan 50-100 unit per bulan. Tommy menyebut konsumen menyukai Nissan Elgrand karena luas kompartemen yang lebih besar.
Sedangkan penjualan Honda Elysion di Indonesia, ungkap Tommy, sangat sedikit. Dia mencatat penjualan Elysion itu hanya 10 unit selama tiga bulan. Lagi-lagi, alasan luas kabin menjadi penyebab. “Ruang kabin kalah besar dengan harga yang tak jauh beda, jadilah orang lebih memilih Alphard,” kata Tommy.
Gurihnya penjualan Alphard membuat air liur agen tunggal pemegang merek (ATPM) Toyota di Indonesia, Toyota Astra Motor (TAM), menetes. Selama ini penguasa peredaran Alphard di Indonesia adalah para Importir Umum (IU). Mereka telah memasok 80% Alphard di tanah air.
Masih memimpin
Selama ini, TAM juga menjual Alphard, tapi hanya varian yang berkapasitas 3.500 cc. Harga varian ini terlalu mahal buat konsumen dan lebih boros bahan bakar. Makanya konsumen lebih suka Alphard berkapasitas 2.400 cc yang selama ini dipasok IU.
Fakta ini membuat penjualan Alphard dari TAM hanya berkisar belasan hingga puluhan unit saja per bulan. Direktur Operasional Auto 2000 Jodjana Jody mengatakan TAM akan segera menyaingi importir yang banyak memasok Alphard 2.400 cc. “Potensi permintaan 2.400 cc besar,” katanya.
Saat ini, tingkat penjualan Toyota Alphard 2.400 cc itu antara 1.500-2.000 unit per tahun. Jody optimis pasar Alphard pada 2010 masih bisa lebih berkembang lagi.
Jody yakin setelah TAM meluncurkan Alphard berkapasitas 2.400 cc ini maka ruang gerak IU menjadi semakin terbatas dalam memasarkan Alphard. “Kalau kami sudah jual, otomatis IU enggak bakal bisa jual lagi,” tuturnya.
Toh, Tommy dan deretan IU tak gentar untuk terus memasarkan Toyota Alphard. Dia mengakui masuknya Alphard 2.400 cc dari TAM membuat persaingan makin ketat. “Porsi kami pasti berkurang, tapi kami akan jalan terus,” kata Tommy.
Tommy yakin konsumen tidak akan selalu berpatokan hanya pada produk keluaran pabrikan. Selain itu, Tommy melihat masih ada celah dalam bersaing menjual Alphard. Dia mengatakan walau sama-sama Alphard, produk TAM dan IU itu berbeda varian.
Perbedaan ini akan bisa membuat konsumen memilih. Sudah pasti, varian yang sesuai dengan kebutuhan akan menjadi pilihan. “Perbedaan produk kami dengan TAM itu cukup banyak,” kata Tommy.
Memang baru Alphard yang bakal menjadi rebutan IU dan pabrikan. Elgrand dan Elysion masuk ke Indonesia hanya melalui IU. ATPM mengaku belum tertarik menjual MPV mewah itu karena pasarnya yang masih terbatas.
Deputi Direktur Penjualan dan Promosi Nasional Nissan Motor Indonesia Teddy Irawan mengaku bila penjualan Elgrand mencapai 150 unit per bulan, ia baru mau mendatangkannya. “Selain itu, masih banyak yang harus kami pikirkan sebelum mendatangkan produk baru,” tutur Teddy.
Perawatan mobil CBU
Perawatan mobil harus selalu menjadi perhatian konsumen. Rasanya percuma bila orang membeli mobil berkelas, tapi tidak bisa merawatnya dengan optimal. Apalagi perawatan untuk mobil premium sekelas Toyota Alphard, Nissan Elgrand, dan Honda Elysion. Mobil-mobil ini masuk melalui jalur Importir Umum (IU).
Selama ini muncul rumor bahwa mobil-mobil yang masuk melalui IU itu sulit mendapat perawatan. Ketersediaan suku cadangnya juga kurang. Kabarnya, suku cadang untuk mobil yang masuk dari IU berbeda dengan versi mobil dari agen tunggal pemegang merek (ATPM).
Tapi kenyataannya tidak demikian. Tommy mengatakan konsumen bisa tetap menjaga kualitas mobil dengan melakukan servis di bengkel IU.
Apalagi, sejak dua tahun lalu pemerintah mewajibkan IU memberikan garansi atas produknya berupa penyediaan bengkel bersertifikat. Tommy mengakui hingga kini jumlah bengkel itu belum banyak, tapi sudah cukup tersebar di berbagai wilayah.
Ada empat sampai lima bengkel IU bersertifikat di Jakarta, satu di Bandung, dua di Surabaya, dan satu di Batam. “Jumlah bengkel ini sudah bisa mencukupi kebutuhan konsumen,” kata Tommy.
Saat ini jumlah mobil yang beredar dari IU sekitar 4.000-6.000 per tahun. Nah, bengkel-bengkel tersebut bisa menampung 20-30 mobil per hari.
Soal suku cadang, konsumen juga tak perlu khawatir sebab bengkel itu juga menyediakan sparepart yang memadai. IU dengan rutin mengimpor onderdil yang dibutuhkan konsumen. “Kami punya banyak pemasok,” tukasnya.
Perawatan untuk mobil-mobil ini sebetulnya juga tak memerlukan perlakuan khusus. Hanya saja, mesin mobil premium rata-rata memang sudah computerized dan penyetelannya hanya bisa dengan peralatan tertentu. Tapi dengan alat tersebut, teknisi sudah bisa langsung tahu penggantian suku cadang yang harus dia lakukan.
Pemilik mobil yang berasal dari IU juga bisa membawa mobilnya ke bengkel milik ATPM. Jody mengatakan bengkel resmi Toyota Astra Motor bisa menerima mobil yang masuk lewat IU. “Tapi pelanggan harus menyediakan biaya yang lebih tinggi,” kata Jody.
Sejurus dengan Toyota, Nissan Motor Indonesia pun menerima layanan servis mobil dari IU. Namun tentunya Nissan tak bisa menyediakan suku cadang yang dibutuhkan konsumen sepenuhnya. “Sebab kami juga tak mau bertanggung jawab kalau terjadi kerusakan,” tutur Teddy.



