Sep 3, 2009

Penjualan MPV Premium Kini Semakin Ranum

TOYOTA Alphard, mobil multiguna atau multipurpose vehicle (MPV) premium, makin banyak peminatnya. Ketua Asosiasi Importir Kendaraan Bermotor Indonesia (AIKI) Tommy R. Dwiananda mencontohkan tingkat penjualan seri terbaru Alphard Velfire Z yang sejauh ini sangat bagus. “Penjualan pada Agustus ini saja bisa mencapai 300 unit,” kata Tommy.

Kondisi ini membuat Alphard kokoh memimpin penjualan MPV premium di Indonesia. Adapun di posisi kedua, Nissan Elgrand membuntuti dengan penjualan 50-100 unit per bulan. Tommy menyebut konsumen menyukai Nissan Elgrand karena luas kompartemen yang lebih besar.

Sedangkan penjualan Honda Elysion di Indonesia, ungkap Tommy, sangat sedikit. Dia mencatat penjualan Elysion itu hanya 10 unit selama tiga bulan. Lagi-lagi, alasan luas kabin menjadi penyebab. “Ruang kabin kalah besar dengan harga yang tak jauh beda, jadilah orang lebih memilih Alphard,” kata Tommy.

Gurihnya penjualan Alphard membuat air liur agen tunggal pemegang merek (ATPM) Toyota di Indonesia, Toyota Astra Motor (TAM), menetes. Selama ini penguasa peredaran Alphard di Indonesia adalah para Importir Umum (IU). Mereka telah memasok 80% Alphard di tanah air.

Masih memimpin

Selama ini, TAM juga menjual Alphard, tapi hanya varian yang berkapasitas 3.500 cc. Harga varian ini terlalu mahal buat konsumen dan lebih boros bahan bakar. Makanya konsumen lebih suka Alphard berkapasitas 2.400 cc yang selama ini dipasok IU.

Fakta ini membuat penjualan Alphard dari TAM hanya berkisar belasan hingga puluhan unit saja per bulan. Direktur Operasional Auto 2000 Jodjana Jody mengatakan TAM akan segera menyaingi importir yang banyak memasok Alphard 2.400 cc. “Potensi permintaan 2.400 cc besar,” katanya.

Saat ini, tingkat penjualan Toyota Alphard 2.400 cc itu antara 1.500-2.000 unit per tahun. Jody optimis pasar Alphard pada 2010 masih bisa lebih berkembang lagi.

Jody yakin setelah TAM meluncurkan Alphard berkapasitas 2.400 cc ini maka ruang gerak IU menjadi semakin terbatas dalam memasarkan Alphard. “Kalau kami sudah jual, otomatis IU enggak bakal bisa jual lagi,” tuturnya.

Toh, Tommy dan deretan IU tak gentar untuk terus memasarkan Toyota Alphard. Dia mengakui masuknya Alphard 2.400 cc dari TAM membuat persaingan makin ketat. “Porsi kami pasti berkurang, tapi kami akan jalan terus,” kata Tommy.

Tommy yakin konsumen tidak akan selalu berpatokan hanya pada produk keluaran pabrikan. Selain itu, Tommy melihat masih ada celah dalam bersaing menjual Alphard. Dia mengatakan walau sama-sama Alphard, produk TAM dan IU itu berbeda varian.

Perbedaan ini akan bisa membuat konsumen memilih. Sudah pasti, varian yang sesuai dengan kebutuhan akan menjadi pilihan. “Perbedaan produk kami dengan TAM itu cukup banyak,” kata Tommy.

Memang baru Alphard yang bakal menjadi rebutan IU dan pabrikan. Elgrand dan Elysion masuk ke Indonesia hanya melalui IU. ATPM mengaku belum tertarik menjual MPV mewah itu karena pasarnya yang masih terbatas.

Deputi Direktur Penjualan dan Promosi Nasional Nissan Motor Indonesia Teddy Irawan mengaku bila penjualan Elgrand mencapai 150 unit per bulan, ia baru mau mendatangkannya. “Selain itu, masih banyak yang harus kami pikirkan sebelum mendatangkan produk baru,” tutur Teddy.

Perawatan mobil CBU

Perawatan mobil harus selalu menjadi perhatian konsumen. Rasanya percuma bila orang membeli mobil berkelas, tapi tidak bisa merawatnya dengan optimal. Apalagi perawatan untuk mobil premium sekelas Toyota Alphard, Nissan Elgrand, dan Honda Elysion. Mobil-mobil ini masuk melalui jalur Importir Umum (IU).

Selama ini muncul rumor bahwa mobil-mobil yang masuk melalui IU itu sulit mendapat perawatan. Ketersediaan suku cadangnya juga kurang. Kabarnya, suku cadang untuk mobil yang masuk dari IU berbeda dengan versi mobil dari agen tunggal pemegang merek (ATPM).

Tapi kenyataannya tidak demikian. Tommy mengatakan konsumen bisa tetap menjaga kualitas mobil dengan melakukan servis di bengkel IU.

Apalagi, sejak dua tahun lalu pemerintah mewajibkan IU memberikan garansi atas produknya berupa penyediaan bengkel bersertifikat. Tommy mengakui hingga kini jumlah bengkel itu belum banyak, tapi sudah cukup tersebar di berbagai wilayah.

Ada empat sampai lima bengkel IU bersertifikat di Jakarta, satu di Bandung, dua di Surabaya, dan satu di Batam. “Jumlah bengkel ini sudah bisa mencukupi kebutuhan konsumen,” kata Tommy.

Saat ini jumlah mobil yang beredar dari IU sekitar 4.000-6.000 per tahun. Nah, bengkel-bengkel tersebut bisa menampung 20-30 mobil per hari.

Soal suku cadang, konsumen juga tak perlu khawatir sebab bengkel itu juga menyediakan sparepart yang memadai. IU dengan rutin mengimpor onderdil yang dibutuhkan konsumen. “Kami punya banyak pemasok,” tukasnya.

Perawatan untuk mobil-mobil ini sebetulnya juga tak memerlukan perlakuan khusus. Hanya saja, mesin mobil premium rata-rata memang sudah computerized dan penyetelannya hanya bisa dengan peralatan tertentu. Tapi dengan alat tersebut, teknisi sudah bisa langsung tahu penggantian suku cadang yang harus dia lakukan.

Pemilik mobil yang berasal dari IU juga bisa membawa mobilnya ke bengkel milik ATPM. Jody mengatakan bengkel resmi Toyota Astra Motor bisa menerima mobil yang masuk lewat IU. “Tapi pelanggan harus menyediakan biaya yang lebih tinggi,” kata Jody.

Sejurus dengan Toyota, Nissan Motor Indonesia pun menerima layanan servis mobil dari IU. Namun tentunya Nissan tak bisa menyediakan suku cadang yang dibutuhkan konsumen sepenuhnya. “Sebab kami juga tak mau bertanggung jawab kalau terjadi kerusakan,” tutur Teddy.

Sep 2, 2009

NEW ALTIS BUAT LEBARAN

Sekilas, tidak ada yang berubah dari penampilan luar (eksterior) sedan seharga Rp 372,5 juta (on-the-road) ini. Membuntuti Corolla Altis 2.0V A/T dari belakang segera terpancar aura sebuah sedan mewah yang menyiratkan nuansa dinamis dan kemewahan lewat lekukan garis bodi yang berkarakter, mirip-mirip Camry.

Penasaran? Sudah pasti, karena itu kami pun menghubungi Toyota Astra Motor (TAM) untuk dipinjamkan sebuah unit Altis 2.0 A/T. Tak perlu menunggu terlalu lama, beberapa hari kemudian satu unit Altis 2.0 A/T berkelir silver sudah parkir di halaman kantor redaksi INILAH.COM di Jl Rimba N0 42, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Seperti biasa, mobil baru selalu menjadi pusat perhatian. Tak terkecuali Altis. Bahkan pemilik INILAH.COM pun, sempat berkomentar, “Wuih! Mobil siapa nih, keren yah.”

Memang! Aura perpaduan Altis baru dan Camry pada sedan ini sangat kental.Yang cukup mencolok adalah grill model mesh. Selain kesan sporty makin kental, sisi aerodinamika juga lebih menonjol. Motif sarang tawon plus bingkai berlapis chrome cukup rapi, tak ada lagi dual-horizontal bar.

Saat pintu dibuka, aroma stylish, elegan bertabur kemewahan plus kemudahan dalam mengoperasikan panel-panel tetap dipertahankan. Jok kulit berwarna beige, panel kayu pada konsol tengah dan trim pintu. Bahkan aura sporty makin terasa saat melihat lingkar kemudi 3-spoke (dibanding model 4-spoke yang cenderung terlihat mewah) yang dilengkapi fitur pengatur audio, paddle shift dan cruise control.

Sedangkan kenyamanan di kabin terkesan eksklusif berkat layar monitor touch-screen 7 inci head unit double DIN yang menyediakan radio/CD/DVD/MP3/WMA plus AUX input dan fasilitas navigasi GPS (opsional).

Untuk mengaktifkan fitur opsional ini, Anda wajib mengeluarkan Rp 8 jutaan dan mendapatkan Navigation Box & Installation Kit yang memang terjual secara terpisah.

Posisi mengemudi Altis terbaru memang nyaman, apalagi dilengkapi sistem pengaturan posisi setir model tilt dan telescopic. Menghidupkan mesinnya tak lagi menggunakan kunci manual biasa, cukup menekan tombol Start/Stop.

Saatnya untuk merasakan performa mesin 3ZR-FE Dual VVT-i yang digunakan Camry dan Altis di Philipina. Waktu yang diberikan TAM untuk menguji Altis ini cukup panjang, jadi nggak perlu buru-buru melarikannya ke tol Cipularang. Cukup seperti membawa kendaraan milik sendiri yang digunakan dari rumah ke kantor dan keperluan lain.

Soal performa, Altis dengan mesin (2.000 cc) ini sudah pasti unggul ketimbang varian bermesin 1.800 cc. Tenaganya 153 dk di putaran 5.600 rpm, lebih besar 9 dk dari pendahulunya. Jadi buat apa menggeber kecepatan maksimumnya. Toh! Kalau anda menjadi pemilik Altis, mana mungkin digeber habis-habisan. Anda akan berpikir dua atau tiga kali untuk melakukannya, apalagi kalau di belakang, duduk manis si kecil dan ibunya.

Memanfaatkan panjangnya waktu pengetesan, membuat kami tahu apa yang ditonjolkan oleh teknologi mesin terbaru Altis dan bagaimana sensasinya saat berada di jalan-jalan ibukota maupun luar kota.

Selama berhar-hari bersama Altis, sebagai pengemudi terkadang kami dibuat tercekam saat pedal gas dimainkan. Respons akselerasi sangat cepat, jauh melebihi pendahulunya. Ini berguna sekali saat kita membutuhkan akselerasi mendadak ataupun ingin mendahului kendaraan lain. Mesin mampu menyajikan tenaga instan tanpa menunggu putaran mesin meningkat ke rpm tinggi.

Resikonya memang ada. Jarum penunjuk konsumsi BBM akan dengan cepat turun. Apalagi kalau menggunakan paddle shift di balik setir. Tidak perlu repot mencolek tuas transmisi untuk memindahkan gigi secara manual. Gearbox Super ECT yang sudah pintar kini lebih cerdik.

Pengalaman selama berhari-hari bersama Altis akan membuat anda terbiasa, jika konsumsi BBM diisi dengan Pertamax plus, selain bisa melaju dengan kecepatan yang lebih kencang, konsumsi bahan bakar terbilang irit, jika dibanding menggunakan bahan bakar Pertamax biru. Konsumsi bahan bakar sangat boros kalau diisi dengan premium. Dengan perhitungan kasar, Altis lumayan irit bisa mencapai 9-10 liter pemakaian dalam kota. Luar kota diperkirakan antara 1:11-13. Sedangkan dengan premium bisa 1: 8 untuk dalam kota dan 1:10 di luar kota.

Perbedaan pada posisi D dan S berpengaruh pada tarikan. Kick down pada kedua posisi ini mampu mengekstrak tenaga dengan baik. Fitur Hill Sensing Control System menahan gigi 3 saat menghadapi turunan kencang dengan tuas pada posisi D.

Soal kenyamanan dan keamanan tidak perlu diragukan. Perpaduan suspensi Mc-Pherson strut plus coil spring & stabilizer bar (depan) dengan torsion, beam plus coil spring & stabilizer membuat penumpang di bagian belakang terasa berada dalam sebuah penerbangan bisnis klas.

Nah! kalau anda sudah memiliki Altis, tapi belum sempat melakukan perjalanan jauh namun punya rencana mudik ke luar kota, jangan ragu! Hadapi kepadatan lalu lintas mudik bersama Altis.

Sep 1, 2009

Kijang J Alternatif bagi Pembeli Avanza

PT Toyota Astra Motor (TAM) mengaku bahwa Kijang Innova J grade diluncurkan untuk menyasar pembeliaan fleet (partai besar) dan untuk kendaraan operasional perusahaan.

“Innova J ini memang kami pasarkan unuk kepentingan bisnis. Target penjualan Innova J ini 150 unit per bulan,” ujar Direktur Pemasaran PT TAM Joko Trisanyoto di sela peluncuran Kijang Innova J hari Jumat (28/8) di Rumah Imam Bonjol, Jakarta.

Ia menambahkan bahwa konsumen yang ingin membeli Avanza nantinya akan diarahkan dan disarankan untuk membeli Innova varian paling sederhana ini. “Kalau untuk pengguna Innova pasti tahu Innova. Justru pembeli Avanza akan kami sarankan untuk membeli Innova ini karena sama saja seven seater tapi mempunyai kabin yang lebih luas dari Avanza,” ujarnya.

Joko Trisanyoto juga menambahkan bahwa TAM sudah merencanakan untuk meluncurkan varian sederhana Kijang Innova dua tahun lalu.

“Untuk kapasitas produksi di pabrik kami cukuo. Pastinya kita sesuaikan. Kijang Innova yang sebelumnya maksimal kami hanya bisa jual 3.100 unit per bulannya, kini kami ingin mencapai 3.500 unit per bulan sekarang bahkan kami ingin bisa tembus 4.000 unit,” ujar Joko Trisanyoto.

Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dirilis awal Agustus lalu menyebutkan, selama Juli 2009, penjualan Toyota Kijang Innova menempati urutan ketiga dalam daftar 10 besar dengan penjualan 3.205 unit.
Visitor Number :